Crossing the Blues
Showing posts with label Last Child. Show all posts
Showing posts with label Last Child. Show all posts
Engkau yang sedang patah hati
Menangislah dan jangan ragu ungkapkan
Betapa pedih hati yang tersakiti
Racun yang membunuhmu secara perlahan

Engkau yang saat ini pilu
Betapa menanggung beban kepedihan
Tumpahkan sakit itu dalam tangismu
Yang menusuk relung hati yang paling dalam

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar kulihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri juga bagi

Engkau yang hatinya terluka
Di peluk nestapa tersapu derita
Seiring saat keringnya air mata
Tak mampu menahan pedih yang tak ada habisnya

Hanya diri sendiri
Yang tak mungkin orang lain akan mengerti
Di sini ku temani kau dalam tangismu
Bila air mata dapat cairkan hati
Kan ku cabut duri pedih dalam hatimu
Agar ku lihat, senyum di tidurmu malam nanti
Anggaplah semua ini
Satu langkah dewasakan diri
Dan tak terpungkiri juga bagimu




Dua tahun sudah ku buang waktuku
Berkhayal dalam harapan jadi kekasihmu
Tanpa pernah aku merasakan jenuh
Walau di tiap detiknya cinta sesakkan nafasku

[*]
Entah bagaimana hancurnya bentuk hatiku
Yang telah berkarat dihempas sang waktu
Ingin ku akhiri karma dari cinta ini
Yang buat air matamu harus tertumpah untukku

[**]
Mungkin karna terlalu indah kenangan kita
Hingga ku takkan pernah lupakan dirimu
Cinta kita dan semua rasaku

Mungkin karna terlalu dalam hatimu terluka
Hingga kau takkan pernah maafkan diriku
Dan kau berikan aku satu penyesalan yang indah

Bagaimana kau menyakinkan hatiku
Kau bukan cerita terindah dalam kisah hidupku
Yang terlukiskan indah oleh sang waktu
Dan terjaga erat oleh rasa rinduku padamu

Back to [*]

Back to [**] 2x


Malam ini hujan turun lagi
Bersama kenangan yang ungkit luka di hati
Luka yang harusnya dapat terobati
Yang ku harap tiada pernah terjadi

Ku ingat saat ayah pergi dan kami mulai kelaparan
Hal yang biasa buat aku hidup di jalanan
Di saat ku belum mengerti arti sebuah perceraian
Yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki

Wajar bila saat ini ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Mungkin sejenak dapat aku lupakan
Dengan minuman keras yang saat ini ku genggam
Atau menggoreskan kaca di lenganku
Apapun kan ku lakukan ku ingin lupakan

Namun bila ku mulai sadar dari sisa mabuk semalam
Perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan
Di saat ku telah mengerti betapa indah dicintai
Hal yang tak pernah ku dapatkan, sejak aku hidup di jalanan

Wajar bila saat ini ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan

Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian
Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah
Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam

Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan
Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan